Selasa, 25 November 2014

pramuka cerpen's (ainun )



Ta’aruf Pramuka  Santri Kwartir Cabang Tulang Bawang Barat

Matahari telah bergeser,tetapi panasnya belum berkurang.Sementara awan putih yang menghalangi untuk meredupkan cahayanya sudah jauh meninggalkannya.Seolah bercerai karena sebuah keegoisan semata.Namun,apa daya,matahari tetaplah matahari yang selalu bersinar dengan keperkasaannya.Dan awan tetaplah awan yang hanya terbang mengambang dan pasti akan hilang menjadi hujan atau embuan di pucuk-pucuk kembang dan dedaunan.
Pagi menjelang siang itu entah perasaan apa yang ada di dalam diriku,meneteskan embuan segar merembas dalam dasar sanubariku.Bersama detakan jantung,sang nafas menjadi tasbih mengamini do’a hati yang penuh pengharapan agar Allah berkenan mengabulkan do’aku.Usai mandi dan sholat duhur,suasana masjid terlihat lengang.Hanya beberapa orang saja yang masih terduduk di masjid untuk bertadarus dan sholat sunnah ,di saat itu hanya ada aku dan lia yang terlihat, sedangkan kawan-kawan telah pergi meninggalkan masjid dan menuju rumah masing-masing sedangkan kawan-kawan pondok pergi ke ruang dapur untuk makan siang.
Tak lama,semuanya lenyap kembali dalam kesibukannya masing-masing.Aku dan lia akhirnya keluar dari masjid dan pulang kepondok,di tengah perjalanan kami ada segerombolan orang yang berada dikantor melambaikan tangan ke arah ku dan lia,tiba-tiba kami berhenti mendadak dan kami saling berpandang-pandangan dengan wajah bingung ,alqur’an yang kujinjing di tangan merosot hampir jatuh yang akhirnya memecah kebingungan di antara kami  
“eeeh untung gak jatuh alqur’an ku”ucapku
”kak kayaknya kita dipanggil deh  ke kantor?”ucap lia
”kayaknya sih ia dek,aduh gimana ya…,eh sepertinya disana ada pak Lezin.Apa jangan-jangan kita disuruh ikut pramuka?,soalnya pak Aan kemaren bilang kalau kita dapat undangan dari MUI untuk kemah dan pak Lezin itu kan wakil ketua MUI”ucapku penuh Tanya
 “ooh iya,bisa jadi tuh kak,ya udah kalau gitu kita kesana yuk!”
”ya udah kalau gitu kita kembalikan dulu perlengkapan solat kita, setelah itu kita ke kantor ok!”
Setelah kami mengembalikan perlengkapan solat, kami pun menuju kantor dengan penuh perasaan tanya dalam hati,kami menuju kantor tempat segerombolan orang sedang sibuk membicarakan sesuatu.Dalam hatiku berkata, apabila aku ditunjuk untuk mewakili kemah nanti alangkah senangnya hatiku, kini apa yang ku harapkan beberapa hari ini terwujud dan apabila tidak ….. “innalilahi wainnailaihi roji’un”.Sesampainya di kantor kami pun dipersilahkan masuk.Kami berdua mengucapkan salam”assalamualaikum” ”wa’alaikum salam”ucap pak lezin dan segerombolan orang yang tadi melambaikan tangan ke arahku,ternyata mereka adalah kawan-kawan pondok  yang juga di panggil pak lezin,tidak hanya mereka bahkan ada kak agus dan kak pendi.”silahkan duduk”kata pak lezin.Kami pun duduk diantara kawan-kawan pondok ,hatiku rasanya dag-dig dug serasa di panggil karena ada suatu  permasalahan.
”eheem begini ceritanya kenapa kalian semua saya panggil,karena kita mendapat undangan untuk kemah di panaragan tepatnya di pondok al-furqon,saya disini memanggil kalian semua untuk mewakili pondok as-salam kemah di panaragan,kalian semua siap atau tidak?”ucap pak Lezin denga lantang .Mendengar ucapan beliau aku merasa tambah dag-dig-dug,tapi dalam hatiku yang paling dalam aku senang karena aku diikut sertakan dalam kemah pramuka .
”insya allah kami siap pak!”jawab ku dengan  tegas,
”nah gitu jawabnya…,kalau kalian tidak siap, pondok  ini di bubarkan saja,ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita bentuk ketua di setiap regu untuk putra dan putrinya”ucap pak lezin .
Tak lama kemudian ada suara yang menjawab pernyataan  pak lezin dengan suara yang serak-serak basah yaitu kak agus.
”saya setuju dengan pendapat pak Lezin,kalau begitu saya usul untuk ketua putrinya  mb Ainun sedangkan ketua putranya Mas ikwan,karena saya disini sebagai Pembina jadi saya wajib memberikan usulan.Bagaimana yang lain setuju atau tidak?” mendengar ucapan yang demikian teman-temanku mengiakan usulan kak Agus,karena mereka memang senang kalau aku yang menjadi ketua regunya begitu juga dengan kak ikhwan,oh iya kak Ikhwan itu akrab di sebut dengan panggilan kak Iwan,hah rasanya….. kok ya kak Iwan  jadi ketua putranya, pas banget fens ku(padahal ya ora ki….. hehehe) jadi ketua ,jadinya enak deh  kalau komunikasi jadi lebih akrab.Kak Agus pun melanjutkan ucapannya
“kalau begitu karena sudah dibentuk ketuanya,saya serahkan kepada ketuanya masing-masing,untuk menyiapkan apa saja yang akan dibawa saat kemah nanti,jangan lupa juga latiahan baris-berbaris dan untuk pentas seninya.Mb Ainun mengerti!,Mas Iwan mengerti! Kerena waktu kita tinggal 4 hari lagi.Sekarangkan masih hari minggu jadi buat kita untuk mempersiapkan segala keperluan kita.Bagi ketuanya tolong di koordinasi teman-temannya,mengerti!”
“mengerti kak”jawab kami berdua.Akhirnya kami semua pulang.
Siang ini tak seperti biasanya,sengatan matahari begitu terasa menembus atap ruang kamar ,tiupan hawa panas yang teramat sangat ,merasuk kedalam ruangan,dan memaksa cucuran keringat mengalir tiada henti.Kipas angin kantor telah dinyalakan,tetapi panas itu mengusir kesejukan yang diembuskan oleh kipas-kipas besar yang berputar kencang ,menghadirkan rasa gerah yang membuncah.Ingin rasanya aku buka balutan baju yang menutupi badanku dan segera berendam ke kamar mandi.
Suara bising kendaraanpun seolah berteriak mengusik lebih kasar dari biasanya,menerbangkan debu-debu jalanan menyesakkan aliran napasku.Ditambah suara teman-teman yang berisik,merusak ketenangan siang itu,suara teman-teman sangat menggangguku istirahat siangku.Berkali-kali ku singkirkan perasaan amarah akibat suara itu,makin ku coba meenyingkirkannya malah makin timbul amarah dalam diriku membuat hatiku gelisah tak karuan.Sesungguhnya aku terpikirkan oleh amanah yang diberikan kak agus kepadaku dan juga kak Iwan,lalu apa yang harus aku lakukan demi membawa nama baik pondok ini?,semoga dengan segala cara yang akan aku lakukan bersama  teman-teman saat pramuka esok  akan membawa nama baik bagi pondok ini amin.
Empat hari telah berlalu tepatnya hari kamis, dari perjuanganku mempersiapkan segala kelengkapan untuk pramuka .Tak sanggup rasanya menunggu hari keberangkatan. Perlengkapan untuk masak,karnaval,pensi, perlengkapan pramuka seperti bambu  dan lain sebagainya telah siap untuk dibawa esok jum’at.Brum-brum….. seperti suara motor komandan  Lezin menghampiri kami yang sedang mempersiapkan segala perlengkapan kami,tiba-tiba pak komandan datang menghampiri kami.
“assalamualaikum…..”      “waalaikum salam “jawab kami  
“gimana perlengkapannya sudah tersedia semua….”
Aku yang sedari tadi sibuk membereskan perlengkapan memasak mencoba menjawab pertanyaan pak komandan.
“eee sudah pak komandan,insya allah sudah siap semua”
“ya sudah kalau begitu yang terpenting kalian jaga kondisi kalian dan jangan lupa besok sebelum berangkat kita semua foto bersama ok!.....”
“siap… pak komandan” mb eka menimpal jawaban “boleh ngeksis dong pak…?”
“Ngeksis-ngeksis…..,eee ya boleh lah “
“Huh….saya kira tidak boleh pak, hehehe”
“boleh lah,masak gak boleh”
Komandan lezin pun beranjak pulang kerumah dan kami segera membereskan perlengkapan kemah kami.Tak sanggup lagi kumenahan rasa pengen kemah,setelah aku shalat isya’ aku langsung pulang dan merenung semalam sambil berkemas-kemas apa yang belum aku masukkan kedalam ranselku.Berlalunya waktu membawa kedalam kesunyian malam,aku pun tertidur lelap menikmati malam yang sunyi. Waktu berlalu begitu saja tanpa salam menjauh dari masa lalu.Waktu adzan subuh membangunkanku untuk beranjak ke kamar mandi dan menunaikan shalat subuh,mentari terus menjulang tak terasa kami segera berangkat,tak lupa pak komandan menyuruh kami berfoto bersama huh rasnya jantungku memompa darah dengan cepat akhirnya timbul rasa berdebar-debar di hati ternyata aku foto di bawah kak Iwan…… hah rasanya seneng banget .Setelah foto, kami semua berangkat menuju panaragan,setibanya disana aku terheran-heran ternyata kami berkemah di pondok al-furqon yang mayoritas semua siswa-siswinya menggunakan bahasa arab dan inggris dalam kesehariannya.Aku terheran - heran dengan mereka ,yang meherankan lagi siswa-siswinya ganteng-ganteng dan cantik-cantik .
Satu hari telah kami lalui bersama,kami merasakan sesuatu yang berbeda.Ta’aruf antara pondok pesantren as-salam dan kawan-kawan pondok dan sekolah MA terjalin diantara kami.Dalam mata lensa berwarna hitam terpotret oleh sebuah kenangan hari ini yaitu hari sabtu yang cerah tepatnya pukul 09:30 wib ,kami semua menikmati permainan rakyat yang kini hilang yang larut dengan perkembangan zaman yang diadakan oleh kakak-kakak Pembina yaitu,permainan bentengan,gobak sodor,susun balok,penjinak bom,patel lele,dan paralon air.Kebetulan kelompokku main bentengan, kami beranggota 5 orang yaitu,aku sendiri,luluk,mafa,khoir,dan beti.Sebelumnya kami belum mengenal satu sama lain,tetapi dengen ta’aruf kami dapat saling mengenal satu sama lain.
“eeeh kawan-kawan aku belum kenal nih sama kalian kenalan dong…,ada pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang….,”perkenalkan namaku Ainun Masyrifah akrab di panggil Ainun,aku dari ponpes as-salam”
“ baiklah perkenalkan aku Luluk Lusiana,panggilanku Luluk.Aku dari ponpes al-furqon”
“wah….. dari alfurqon?,dikelompok ini yang dari alfurqon berapa orang?”
“ 2 orang,wafa dan aku.Sedangkan Beti dari MHM, kalau Khoir dari darul ulum”
“baiklah,kita mau main apa dulu nihhhh”
“kita main betengan dulu yukk,masalahnya betengn permainan  yang masih sepi, kagak ada yang ngantri.Eh lihat disana ada kelompok denis kita lawan dia aja yuk,gimana setuju gak?”usul khoir
“setuju-setuju,yuk cap cus…..”ajak luluk
“ok….,kita kalahin dia.heheheh”tertawanya beti membuat kelompok denis mengerut.
Kami berlima menuju kelompok denis yang dari tadi kelompoknya masih berdiskusi dengan kak Fitri,kak Fitri itu koordinator lomba betengan.
“den kita main betengan yuk,kelompokmu lawan kelompokku,gimana setuju gak?”ajakku
“ok! tak masalah,yuk kita mulai permainannya”
Kak Fitri memberikan arahan sebelum kami memulai bermain.Setelah memberikan pengarahan kami pun memulai permainan.Kak Fitri mengundi mana kelompok yang menyerang dan diserang(yang memulai duluan),akhirnya kelompok denis yang maju duluan.Permainan berlangsung seru,ditengah perjalanan permainan kami ternyata tak disangka ada sesosok makhluk yang memotret kami.Dia berkacamata,cakep lagi dia bernama Dimas,seringnya kalau dibilang mister jutek.Orangnya itu cuek,apa lagi kalau sama cewek, bebebehhhh cueknya ampun dah.
“eeeh mas, kalau mau foto ngomong-ngomong dong, kan bisa gaya dulu”ucapku
“iya dong dim kita kan bisa ngeksis “lanjut luluk
“eeeh luk emangnya dia siapa?”
“dia itu namanya dimas,mister jutek”
“oooh Dimas namanya,loh kenapa di panggil mister jutek?”
“ialah dia itu kalau ketemu cewek apa pernah nyapa”          “oooh gitu”
Dalam hatiku yang paling dalam berkata”ahh tipe-tipe aku banget,cobak deh aku tes dia bisa senyum gak sama aku,hehe”
“hai kak dimas”
“cieeeeeeeeeee Ainun loh”teriak teman-teman
Dia hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan kami sambil membawa kamera yang dijinjing di tangannya.Kami pun melanjutkan permaina, sampai kumandang adzan duhur.Matahari terus menyingsing meninggalkan jejak-jejak sinarnya,hingga dia tak terlihat lagi.Waktu persiapan untuk menunaikan shalat maghrib,usai shalat maghrib ada panggilan untuk ku yang pertama aku dapat panggilan dari salah seoran siswi pondok,awalmulanya aku tak mengenalinya dan kucoba untuk menghampiri.
“assalamualaikum”
“waalaikum salam,ada apa mb? Sepertinya mb memanggil saya”
“iya kak ini saya Dian,ada bingkisan buat kakak dariku mohon dibalas ya kak?”
“oooh ya allah iya,makasih ya dek.Kamu to tak kira siapa tadi,ya insya allah mb balas besok “
“makasih ya kak”   “Ya”
Panggilan yang ke dua berasal dari sumber suara yaitu di sekertariat.Aku pun mendatanginya ternyata persiapan untuk api unggun dan pensi,ya allah ya tuhan ternyata tak terasa besok pulang serasa aku tak ingin meninggalkan pondok ini.Usai shalat isya’api unggun di mulai seusainy dilanjutkan oleh pensi.huuuh rasanya deg degkan ternyata aku satu-satunya wanita yang tampil sendiri di panggung yang begitu lebar dengn membawakan puisi yang berjudul “lumuran virus neraka” dengan irama musik yang menggentarkan suasana malam itu.Tak ku sadari ternyata banyak orang yang melihat penampilan ku pada saat itu, terutama para dewan guru (Ustadz) dan kawan-kawan pondok yang datang hanya ingin melihat penampilanku,begitu mengesankan.Tak ku bayangkan mereka datang di saat aku mulai tampil dimuka umum dan yang paling mengejutkan lagi serasa aku menjadi artis semalam banyak potret kamera dimana-mana apa lagi kak Dimas yang sedari tadi sudah siap dengan kameranya begitu pun kak iwan.Gemuruh suara tepuk tangan dimana-mana,rasanya keadaan yang seperti ini tak mungkin akan kulupakan begitu saja.Apa lagi pertemuanku dengan teman-teman al-furqon,terutama untuk kak Dimas dan juga Dian.Ternyata pertemuan itu membuatku masih teringat hingga hari ini dan dimulai kemah dari al-furqon aku sekarang senang dengan pramuka dan aku bermimpi bisa mengikuti jambore nasional,mudah-mudahan cita-citaku terwujud amin.   



Karya;Ainun Masyrifah