Ta’aruf
Pramuka Santri Kwartir Cabang Tulang
Bawang Barat
Matahari
telah bergeser,tetapi panasnya belum berkurang.Sementara awan putih yang
menghalangi untuk meredupkan cahayanya sudah jauh meninggalkannya.Seolah
bercerai karena sebuah keegoisan semata.Namun,apa daya,matahari tetaplah
matahari yang selalu bersinar dengan keperkasaannya.Dan awan tetaplah awan yang
hanya terbang mengambang dan pasti akan hilang menjadi hujan atau embuan di
pucuk-pucuk kembang dan dedaunan.
Pagi
menjelang siang itu entah perasaan apa yang ada di dalam diriku,meneteskan
embuan segar merembas dalam dasar sanubariku.Bersama detakan jantung,sang nafas
menjadi tasbih mengamini do’a hati yang penuh pengharapan agar Allah berkenan
mengabulkan do’aku.Usai mandi dan sholat duhur,suasana masjid terlihat
lengang.Hanya beberapa orang saja yang masih terduduk di masjid untuk
bertadarus dan sholat sunnah ,di saat itu hanya ada aku dan lia yang terlihat,
sedangkan kawan-kawan telah pergi meninggalkan masjid dan menuju rumah
masing-masing sedangkan kawan-kawan pondok pergi ke ruang dapur untuk makan
siang.
Tak
lama,semuanya lenyap kembali dalam kesibukannya masing-masing.Aku dan lia
akhirnya keluar dari masjid dan pulang kepondok,di tengah perjalanan kami ada
segerombolan orang yang berada dikantor melambaikan tangan ke arah ku dan
lia,tiba-tiba kami berhenti mendadak dan kami saling berpandang-pandangan
dengan wajah bingung ,alqur’an yang kujinjing di tangan merosot hampir jatuh yang
akhirnya memecah kebingungan di antara kami
“eeeh
untung gak jatuh alqur’an ku”ucapku
”kak
kayaknya kita dipanggil deh ke
kantor?”ucap lia
”kayaknya
sih ia dek,aduh gimana ya…,eh sepertinya disana ada pak Lezin.Apa jangan-jangan
kita disuruh ikut pramuka?,soalnya pak Aan kemaren bilang kalau kita dapat undangan
dari MUI untuk kemah dan pak Lezin itu kan wakil ketua MUI”ucapku penuh Tanya
“ooh iya,bisa jadi tuh kak,ya udah kalau gitu
kita kesana yuk!”
”ya
udah kalau gitu kita kembalikan dulu perlengkapan solat kita, setelah itu kita
ke kantor ok!”
Setelah
kami mengembalikan perlengkapan solat, kami pun menuju kantor dengan penuh perasaan
tanya dalam hati,kami menuju kantor tempat segerombolan orang sedang sibuk
membicarakan sesuatu.Dalam hatiku berkata, apabila aku ditunjuk untuk mewakili
kemah nanti alangkah senangnya hatiku, kini apa yang ku harapkan beberapa hari
ini terwujud dan apabila tidak ….. “innalilahi wainnailaihi roji’un”.Sesampainya
di kantor kami pun dipersilahkan masuk.Kami berdua mengucapkan
salam”assalamualaikum” ”wa’alaikum salam”ucap pak lezin dan segerombolan orang yang
tadi melambaikan tangan ke arahku,ternyata mereka adalah kawan-kawan pondok yang juga di panggil pak lezin,tidak hanya
mereka bahkan ada kak agus dan kak pendi.”silahkan duduk”kata pak lezin.Kami
pun duduk diantara kawan-kawan pondok ,hatiku rasanya dag-dig dug serasa di
panggil karena ada suatu permasalahan.
”eheem
begini ceritanya kenapa kalian semua saya panggil,karena kita mendapat undangan
untuk kemah di panaragan tepatnya di pondok al-furqon,saya disini memanggil
kalian semua untuk mewakili pondok as-salam kemah di panaragan,kalian semua
siap atau tidak?”ucap pak Lezin denga lantang .Mendengar ucapan beliau aku
merasa tambah dag-dig-dug,tapi dalam hatiku yang paling dalam aku senang karena
aku diikut sertakan dalam kemah pramuka .
”insya
allah kami siap pak!”jawab ku dengan
tegas,
”nah
gitu jawabnya…,kalau kalian tidak siap, pondok
ini di bubarkan saja,ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita bentuk
ketua di setiap regu untuk putra dan putrinya”ucap pak lezin .
Tak
lama kemudian ada suara yang menjawab pernyataan pak lezin dengan suara yang serak-serak basah
yaitu kak agus.
”saya
setuju dengan pendapat pak Lezin,kalau begitu saya usul untuk ketua putrinya mb Ainun sedangkan ketua putranya Mas
ikwan,karena saya disini sebagai Pembina jadi saya wajib memberikan
usulan.Bagaimana yang lain setuju atau tidak?” mendengar ucapan yang demikian
teman-temanku mengiakan usulan kak Agus,karena mereka memang senang kalau aku
yang menjadi ketua regunya begitu juga dengan kak ikhwan,oh iya kak Ikhwan itu
akrab di sebut dengan panggilan kak Iwan,hah rasanya….. kok ya kak Iwan jadi ketua putranya, pas banget fens ku(padahal
ya ora ki….. hehehe) jadi ketua ,jadinya enak deh kalau komunikasi jadi lebih akrab.Kak Agus pun
melanjutkan ucapannya
“kalau
begitu karena sudah dibentuk ketuanya,saya serahkan kepada ketuanya
masing-masing,untuk menyiapkan apa saja yang akan dibawa saat kemah
nanti,jangan lupa juga latiahan baris-berbaris dan untuk pentas seninya.Mb
Ainun mengerti!,Mas Iwan mengerti! Kerena waktu kita tinggal 4 hari lagi.Sekarangkan
masih hari minggu jadi buat kita untuk mempersiapkan segala keperluan kita.Bagi
ketuanya tolong di koordinasi teman-temannya,mengerti!”
“mengerti
kak”jawab kami berdua.Akhirnya kami semua pulang.
Siang
ini tak seperti biasanya,sengatan matahari begitu terasa menembus atap ruang
kamar ,tiupan hawa panas yang teramat sangat ,merasuk kedalam ruangan,dan
memaksa cucuran keringat mengalir tiada henti.Kipas angin kantor telah
dinyalakan,tetapi panas itu mengusir kesejukan yang diembuskan oleh kipas-kipas
besar yang berputar kencang ,menghadirkan rasa gerah yang membuncah.Ingin
rasanya aku buka balutan baju yang menutupi badanku dan segera berendam ke
kamar mandi.
Suara
bising kendaraanpun seolah berteriak mengusik lebih kasar dari
biasanya,menerbangkan debu-debu jalanan menyesakkan aliran napasku.Ditambah
suara teman-teman yang berisik,merusak ketenangan siang itu,suara teman-teman
sangat menggangguku istirahat siangku.Berkali-kali ku singkirkan perasaan
amarah akibat suara itu,makin ku coba meenyingkirkannya malah makin timbul
amarah dalam diriku membuat hatiku gelisah tak karuan.Sesungguhnya aku
terpikirkan oleh amanah yang diberikan kak agus kepadaku dan juga kak Iwan,lalu
apa yang harus aku lakukan demi membawa nama baik pondok ini?,semoga dengan
segala cara yang akan aku lakukan bersama
teman-teman saat pramuka esok akan membawa nama baik bagi pondok ini amin.
Empat
hari telah berlalu tepatnya hari kamis, dari perjuanganku mempersiapkan segala
kelengkapan untuk pramuka .Tak sanggup rasanya menunggu hari keberangkatan. Perlengkapan
untuk masak,karnaval,pensi, perlengkapan pramuka seperti bambu dan lain sebagainya telah siap untuk dibawa
esok jum’at.Brum-brum….. seperti suara motor komandan Lezin menghampiri kami yang sedang
mempersiapkan segala perlengkapan kami,tiba-tiba pak komandan datang
menghampiri kami.
“assalamualaikum…..” “waalaikum salam “jawab kami
“gimana
perlengkapannya sudah tersedia semua….”
Aku
yang sedari tadi sibuk membereskan perlengkapan memasak mencoba menjawab
pertanyaan pak komandan.
“eee
sudah pak komandan,insya allah sudah siap semua”
“ya
sudah kalau begitu yang terpenting kalian jaga kondisi kalian dan jangan lupa
besok sebelum berangkat kita semua foto bersama ok!.....”
“siap…
pak komandan” mb eka menimpal jawaban “boleh ngeksis dong pak…?”
“Ngeksis-ngeksis…..,eee
ya boleh lah “
“Huh….saya
kira tidak boleh pak, hehehe”
“boleh
lah,masak gak boleh”
Komandan
lezin pun beranjak pulang kerumah dan kami segera membereskan perlengkapan kemah
kami.Tak sanggup lagi kumenahan rasa pengen kemah,setelah aku shalat isya’ aku
langsung pulang dan merenung semalam sambil berkemas-kemas apa yang belum aku
masukkan kedalam ranselku.Berlalunya waktu membawa kedalam kesunyian malam,aku
pun tertidur lelap menikmati malam yang sunyi. Waktu berlalu begitu saja tanpa
salam menjauh dari masa lalu.Waktu adzan subuh membangunkanku untuk beranjak ke
kamar mandi dan menunaikan shalat subuh,mentari terus menjulang tak terasa kami
segera berangkat,tak lupa pak komandan menyuruh kami berfoto bersama huh rasnya
jantungku memompa darah dengan cepat akhirnya timbul rasa berdebar-debar di
hati ternyata aku foto di bawah kak Iwan…… hah rasanya seneng banget .Setelah
foto, kami semua berangkat menuju panaragan,setibanya disana aku terheran-heran
ternyata kami berkemah di pondok al-furqon yang mayoritas semua siswa-siswinya
menggunakan bahasa arab dan inggris dalam kesehariannya.Aku terheran - heran
dengan mereka ,yang meherankan lagi siswa-siswinya ganteng-ganteng dan cantik-cantik
.
Satu
hari telah kami lalui bersama,kami merasakan sesuatu yang berbeda.Ta’aruf
antara pondok pesantren as-salam dan kawan-kawan pondok dan sekolah MA terjalin
diantara kami.Dalam mata lensa berwarna hitam terpotret oleh sebuah kenangan
hari ini yaitu hari sabtu yang cerah tepatnya pukul 09:30 wib ,kami semua
menikmati permainan rakyat yang kini hilang yang larut dengan perkembangan
zaman yang diadakan oleh kakak-kakak Pembina yaitu,permainan bentengan,gobak
sodor,susun balok,penjinak bom,patel lele,dan paralon air.Kebetulan kelompokku
main bentengan, kami beranggota 5 orang yaitu,aku sendiri,luluk,mafa,khoir,dan
beti.Sebelumnya kami belum mengenal satu sama lain,tetapi dengen ta’aruf kami
dapat saling mengenal satu sama lain.
“eeeh
kawan-kawan aku belum kenal nih sama kalian kenalan dong…,ada pepatah yang
mengatakan “tak kenal maka tak sayang….,”perkenalkan namaku Ainun Masyrifah
akrab di panggil Ainun,aku dari ponpes as-salam”
“
baiklah perkenalkan aku Luluk Lusiana,panggilanku Luluk.Aku dari ponpes
al-furqon”
“wah…..
dari alfurqon?,dikelompok ini yang dari alfurqon berapa orang?”
“
2 orang,wafa dan aku.Sedangkan Beti dari MHM, kalau Khoir dari darul ulum”
“baiklah,kita
mau main apa dulu nihhhh”
“kita
main betengan dulu yukk,masalahnya betengn permainan yang masih sepi, kagak ada yang ngantri.Eh
lihat disana ada kelompok denis kita lawan dia aja yuk,gimana setuju gak?”usul
khoir
“setuju-setuju,yuk
cap cus…..”ajak luluk
“ok….,kita
kalahin dia.heheheh”tertawanya beti membuat kelompok denis mengerut.
Kami
berlima menuju kelompok denis yang dari tadi kelompoknya masih berdiskusi
dengan kak Fitri,kak Fitri itu koordinator lomba betengan.
“den
kita main betengan yuk,kelompokmu lawan kelompokku,gimana setuju gak?”ajakku
“ok!
tak masalah,yuk kita mulai permainannya”
Kak
Fitri memberikan arahan sebelum kami memulai bermain.Setelah memberikan
pengarahan kami pun memulai permainan.Kak Fitri mengundi mana kelompok yang
menyerang dan diserang(yang memulai duluan),akhirnya kelompok denis yang maju
duluan.Permainan berlangsung seru,ditengah perjalanan permainan kami ternyata
tak disangka ada sesosok makhluk yang memotret kami.Dia berkacamata,cakep lagi
dia bernama Dimas,seringnya kalau dibilang mister jutek.Orangnya itu cuek,apa
lagi kalau sama cewek, bebebehhhh cueknya ampun dah.
“eeeh
mas, kalau mau foto ngomong-ngomong dong, kan bisa gaya dulu”ucapku
“iya
dong dim kita kan bisa ngeksis “lanjut luluk
“eeeh
luk emangnya dia siapa?”
“dia
itu namanya dimas,mister jutek”
“oooh
Dimas namanya,loh kenapa di panggil mister jutek?”
“ialah
dia itu kalau ketemu cewek apa pernah nyapa” “oooh gitu”
Dalam
hatiku yang paling dalam berkata”ahh tipe-tipe aku banget,cobak deh aku tes dia
bisa senyum gak sama aku,hehe”
“hai
kak dimas”
“cieeeeeeeeeee
Ainun loh”teriak teman-teman
Dia
hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan kami sambil membawa kamera yang
dijinjing di tangannya.Kami pun melanjutkan permaina, sampai kumandang adzan
duhur.Matahari terus menyingsing meninggalkan jejak-jejak sinarnya,hingga dia
tak terlihat lagi.Waktu persiapan untuk menunaikan shalat maghrib,usai shalat
maghrib ada panggilan untuk ku yang pertama aku dapat panggilan dari salah
seoran siswi pondok,awalmulanya aku tak mengenalinya dan kucoba untuk
menghampiri.
“assalamualaikum”
“waalaikum
salam,ada apa mb? Sepertinya mb memanggil saya”
“iya
kak ini saya Dian,ada bingkisan buat kakak dariku mohon dibalas ya kak?”
“oooh
ya allah iya,makasih ya dek.Kamu to tak kira siapa tadi,ya insya allah mb balas
besok “
“makasih
ya kak” “Ya”
Panggilan
yang ke dua berasal dari sumber suara yaitu di sekertariat.Aku pun
mendatanginya ternyata persiapan untuk api unggun dan pensi,ya allah ya tuhan ternyata
tak terasa besok pulang serasa aku tak ingin meninggalkan pondok ini.Usai
shalat isya’api unggun di mulai seusainy dilanjutkan oleh pensi.huuuh rasanya
deg degkan ternyata aku satu-satunya wanita yang tampil sendiri di panggung
yang begitu lebar dengn membawakan puisi yang berjudul “lumuran virus neraka”
dengan irama musik yang menggentarkan suasana malam itu.Tak ku sadari ternyata
banyak orang yang melihat penampilan ku pada saat itu, terutama para dewan guru
(Ustadz) dan kawan-kawan pondok yang datang hanya ingin melihat penampilanku,begitu
mengesankan.Tak ku bayangkan mereka datang di saat aku mulai tampil dimuka umum
dan yang paling mengejutkan lagi serasa aku menjadi artis semalam banyak potret
kamera dimana-mana apa lagi kak Dimas yang sedari tadi sudah siap dengan
kameranya begitu pun kak iwan.Gemuruh suara tepuk tangan dimana-mana,rasanya
keadaan yang seperti ini tak mungkin akan kulupakan begitu saja.Apa lagi
pertemuanku dengan teman-teman al-furqon,terutama untuk kak Dimas dan juga
Dian.Ternyata pertemuan itu membuatku masih teringat hingga hari ini dan
dimulai kemah dari al-furqon aku sekarang senang dengan pramuka dan aku
bermimpi bisa mengikuti jambore nasional,mudah-mudahan cita-citaku terwujud
amin.
Karya;Ainun Masyrifah